Wahid Foundation Menggagas Langkah Konkret Dalam Menyebarkan Toleransi

Pertumbuhan ruang digital tidak bisa dipungkiri muncul sebagai pendorong utama pertumbuhan disektor ekonomi, budaya, media, dan pendidikan. Namun, terbukanya akses ruang digital bagi setiap orang juga menghadirkan berbagai tantangan. Termasuk penyebaran narasi intoleransi dan ekstremisme kekerasan. Wahid Foundation sebagai organisasi masyarakat sipil berusaha melakukan upaya kontra narasi dengan menggagas langkah konkret dalam menyebarkan toleransi. Serta perdamaian dengan menonjolkan praktik praktik baik di masyarakat.

Kampanye yang bernama Salam Forum ini dilakukan bersama dengan 10 content creator dari kalangan tokoh, agama, media moderat dan aktivis perempuan. Salam Forum merupakan kampanye hasil kerjasama Wahid Foundation, Google/YouTube, dan UNDP Bangkok Regional Hub dalam melindungi masyarakat. Khususnya anak muda di Indonesia dari konten berbahaya. Kerjasama ini berupaya untuk membangun kapasitas cendekiawan Islam moderat. Tujuannya untuk menghasilkan dan menyebarkan pesan damai untuk melawan intoleransi dan ekstremisme kekerasan secara online.

Sehingga membangun kesadaran masyarakat akan penting nya toleransi di tengah perbedaan suku, ras, agama dan kepercayaan di Indonesia. Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid menjelaskan jika pada Salam Forum, akan tersedia program fellowship berbentuk mentoring dan pendanaan awal dalam produksi video kampanye untuk perdamaian. "Nantinya, video hasil kolaborasi dengan 10 content creator ini akan dapat di akses melalui kanal youtube oleh masyarakat di seluruh Indonesia, " ungkap Yenny pada movie screening dan diskusi film pendek Salam campaign di Gedung Djakarta Teater di Jakarta Pusat, Jumat (1/4/2022).

Di sisi lain, berbagai upaya kontra narasi telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat sipil untuk meredam sirkulasi pesan pesan intoleransi dan ekstremisme kekerasan di ruang digital. Salah satunya adalah melalui kolaborasi berbagai pihak sentral. Termasuk tokoh agama dan media dalam menyebarkan kontra dan alternatif narasi di ruang digital. Acara ini juga mendapat dukungan dari Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan RI, Prof. Dr. H. Mahfud MD. Begitu juga dengan Badan Pembangunan PBB, UNDP. Mitra Modaressi, PVE Program Manager UNDP Bangkok Regional Hub.

Sementara, bapak Marc Vierstraete Verlinde, Pakar Keamanan dan Kontra Terorisme Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, meyakini bahwa budaya popular dapat dimanfaatkan dan memiliki peran penting dalam membangun kohesi sosial. Maraknya ujaran kebencian (hate speech) yang beredar di ruang digital, juga berdampak negatif dalam menjalin hubungan baik antar sesama manusia dan antar umat beragama. Ini juga menjadi tantangan dan ancaman perihal toleransi di Indonesia. Habib Husein Ja’far Al Hadar, seorang Da’i Islam Cinta.

Ia juga sekaligus content creator yang berdakwah melalui media sosial menegaskan masyarakat harus sangat bijak dalam bermedia. Menurutnya saat ini publik diberikan kemudahan dalam mengakses dan menyebar informasi apapun. Media sosial menjadi platform utama penyebaran informasi. "Jika tidak digunakan secara bijak dan sesuai etika, media sosial menjadi lahan subur menyebarkan konten terlarang yang bisa menyebabkan intoleransi. Masyarakat harus berpikir sebelum menulis, dan berpikir sebelum menyebarkan konten," kata Habib Ja'far menambahkan.

Video perdamaian hasil kolaborasi 10 content creator ini menghadirkan 10 video yang bertemakan perdamaian dengan durasi tiap konten sekitar 4 8 menit. Video ini juga dilengkapi dengan toolkit yang berisi informasi tentang 7 langkah jitu, yang bisa membantu publik untuk menyebarkan konten konten toleransi di media sosial. Publik yang ingin mempelajari lebih dalam tentang menyusun konten toleransi yang berbentuk kontra narasi dan narasi alternatif untuk toleransi dan perdamaian, bisa mengunduhnya di: https://www.wahidfoundation.org/

Bagi masyarakat yang ingin mengakses video perdamaian bisa menonton pada link berikut: https://bit.ly/35oCZm2. 1. Ar Rahim dengan tema “Unity in Diversity” 2. Aswaja Dewata dengan tema Merawat Tradisi, menjunjung Toleransi berjudul “Putu: Berbeda Tetap Keluarga” 3. Alif.Id dengan tema Rukun Tetangga dalam Bingkai Kearifan Lokal berjudul “Srawung” 4. PW Pergunu dengan tema Moderasi Beragama berjudul “Sekolah Moderat” 5. Islam Santun dengan tema Moderasi Beragama berjudul “Reresik” 6. Neswa dengan tema tentang Ragam Wajah Muslimah Indonesia berjudul Cerita Muslimah Episode 1. Sang Penari 7. Desa Nglinggi dengan tema Perempuan Pejuan Kemanusiaan di masa Pandemi berjudul “Rewang” 8. Komunitas Musisi Mengaji dengan tema Musik, Musisi, Inklusifitas dan Gerakan Hijrah yang mengangkat percakapan tentang Halal Haram Bermusik sebagai media dakwah berjudul “Sailor Maemonah” 9. Srikandi Lintas Iman dengan tema Perempuan Agen Perdamaian berjudul “Boru Bawa Damai” 10. Tsaqafah dengan tema Toleransi di Sekolah berjudul “Story of Vivian.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.